Bapak Tua di At-Taqwa (27)

Aku dan rasa malas, adalah gadis berwajah cantik dengan lesung pipit di pipinya yang ranum dan lakilaki bermuka jelek yang ditimpa kasmaran berlebih. Ke manapun si gadis  berlesung pipit pergi, lelaki bermuka jelek selalu saja mengikuti. Berusaha untuk mencuri hati. Padahal, sebagaimana kalian, lelaki bermuka jelek itu juga telah tahu bahwa tak mungkin dia dapat mengambil bahkan hanya sedikit bagian dari hatiku. Hal itu jelas, karena sejak beberapa tahun yang lalu aku telah mencincang hatiku dan membagibagikannya kepada priapria berawajah tampan. Merekalah ilmu, ketertiban, kerja keras, ketaatan, si wajah berseri dengan senyumnya yang simpul, serta beberapa lagi yang lainnya.Tinggal sedikit yang aku sisakan untuk diriku, dan itupun aku simpan rapatrapat di dalam brangkas yang beratnya minta ampun, untuk suatu saat akan kuberikan kepada entah siapa lagi. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (26)

Kuliah kosong. Bukannya sedih atau kecewa, kebanyakan mahasiswa justru gembira dengan keadaan semacam ini. Jikapun ada yang tidak terima dengan kekosongan itu, jumlahnya tak akan lebih dari lembaran daun yang terdapat pada setangkai daun ketela pohon. Dan semua juga tahu, salah satu dari jumlah yang sedikit itu adalah aku.

 

kecewa?

ya!

alasannya?

tak banyak!

example?

 

Aku ini, seantero jagad kampus juga sudah tahu, tinggal di tempat yang tidak bisa dibilang dekat dari lokasi kampus. dengan niat yang membuncah aku sudah siapkan diri untuk sekedar mendengar ceramah dosen meski nantinya, aku seringkali matimatian menahan kantuk berat yang menimpa mataku. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (25)

Pagi hari, ba’da subuh.

Rutinitas anak-anak At-Taqwa masih seperti biasa. Ada yang ngaji di samping dekat jendela, ada yang kembali tidur, ada yang bersihbersih lingkungan Masjid, ada yang santai berolahraga sekedar meregangkan otot demi menghalau hawa  dingin yang menyerang, ada yang mencuci sarung, ada yang belanja. Aku sendiri, pagi itu, juga masih seperti harihari sebelumnya, memilih bacabaca buku untuk sekedar memenuhi kebutuhan otak agar tak kelaparan. Hal ini tentu bisa dimahfumi, karena bagi orang yang lemah otak seperti aku ini, jika tak membaca buku barang 2 sampai 3 hari saja, otak rasanya kosong blong, tak berisi sesuatupun.

 

Dan Mbah Wan, tidak seperti biasanya, pagi itu tidak segera pulang mengurus bisnis paving bloknya. Pagi itu, beliau agak berlamalama bertafakur Masjid, tepatnya di ruang pengimaman, samping mimbar khotib. Entah doadoa apa yang beliau sedang panjatkan. Tapi jelas, dan sepenuh hati aku yakin, Mbah Wan selalu menyelipkan dalam setiap panjatan doadoanya agar aku dan temanteman penghuni Masjid At-Taqwa dapat meraih sukses yang diimpikan di kemudian hari nanti. Kebaikan dan perhatian Mbah Wan kepada kami semua, sungguh tak terbalaskan. Beliau adalah Orang Tua kami di At-Taqwa. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (24)

Di At-Taqwa, sering aku merenung sendirian kala malam menjelang. Hal ini penting. Kontemplasi, adalah istilah yang kondang dikalangan anak-anak At-Taqwa. Berdiam diri berpikir secara mendalam tentang apa saja. Segala hal.

Tentang diri sebagai manusia; Sebagai abdullaah sekaligus kholifatullaah.

Tentang diri sebagai anak; mengemban amanah orang tua untuk menuntut ilmu ilmu setinggi mungkin di kampus nan megah yang bertaburan kilau cahaya dari bintangbintang pemegang amanah IPTEK.

Tentang diri sebagai mahasiswa; memiliki tugas dan tanggung jawab teramat besar. Agent of change. agen-agen perubahan.

juga tak kalah penting, tentang diri sebagai mandat, wakil masyarakat sekecamatan, yang digadang-gadang seluruh warga untuk kemudian nanti, selulus belajar dari perguruan tinggi, bisa kembali ke daerah asal masingmasing demi membangun kemajuan desa tercinta. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (23)

Tanpa harus bertanya kepada temanteman At-Taqwa, aku sudah bisa mengira-ira siapa Bapak berjenggot itu. Dan sedikit banyak aku paham betul dengan saudarasaudaraku yang ini. Yang selalu tak pernah memotong jenggot, yang berkeliling dari satu masjid ke masjid yang lain. Kali ini, kembali mereka menginap di At-Taqwa.

 

Aroma harum bibit minyak wangi yang dioleskan ke beberapa titik pakaian juga kedua telapak tangan, akan selalu memenuhi ruang di mana dia berada. Kerendahan hati dan ketulusan jiwa dalam menyampaikan tugas dakwahnya, terpancar dari setiap gerak, sorot mata dan potongan setiap kalimat yang meluncur indah dari kata-katanya. Meski sangat sederhana, setiap kalimat yang diluncurkannya tak ada yang sia-sia. Meluncur penuh keikhlasan, dan disitulah letak kekuatannya. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (22)

Siang yang selalu panas, terik sekali. Memang begitulah keadaan cuaca di sekaran semenjak dan selama aku kuliah. Hal itu tak mengherankan, karena kampus tempatku  menempa diri menimba ilmu dan pengalaman itu berdiri di atas lahan gersang yang terbentang dari selatan ke utara selebar puluhan kilometer dan timur ke barat juga sepanjang puluhan kilometer itu dengan hampir tanpa ditumbuhi pepohonan berkayu. Di sana sini yang sering tampak hanyalah rumput ilalang yang hidup bebas tanpa aturan.

 

Kampus yang begitu megah dengan hampir setiap gedungnya tersusun atas tiga lantai itu terbelah menjadi dua bagian, timur dan barat. Pembelahnya tak lain sebuah jalan raya, yang kelak selulus aku dari kampus akan bernama Jl. Taman Siswa. Jalan itu panjangnya tak lebih dari 3 km. Kampus FMIPA adalah tempatku kuliah selama 4 tahun, menyusun skripsi 1 semester, ditambah pendalaman referensi diperpustakaan selama 2 tahun. Genap 6,5 tahun aku berada di Kampus itu. Terletak paling dekat dengan jalan pembelah kampus, FMIPA bak istana dengan 4 gedung kuliah, 4 gedung jurusan, 1 gedung fakultas dan 3 gedung laboratorium. Gedung kuliah (D1-D4) terletak persis di sebelah barat jalan pembelah, dengan urutan dari selatan ke urata adalah gedung Kimia, gedung Fisika, Gedung Matematika, dan paling utara adalah gedung Biologi.  Konon, gedung biologi adalah gedung kuliah yang paling tua di sekaran. Tahun 1992, Kampus itu di relokasi dari kelud ke pinggiran kota. Gedung Fisika yang berhadapan dengan gedung kimia, terletak tepat di sudut belokan jalan pembelah. Dan di sudut itulah teletak sebuah pos penjaga kampus yang telah beralih fungsi sebagai tempat thongkrongan mahasiswa. Utamanya, ketika mereka menunggu kedatangan angkutan umum. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (21)

Fakhrudin, Robin, Fauzi, Iqbal, Sapta, Jeki, Oka, Ambar, Anis dkk adalah para pejuang tangguh “Gerombolan At-Taqwa” angkatan 98. Jika suatu saat engkau bertanya, “Mengapa Islam harus ada Muhammadiyah, NU, PERSIS, dan lain-lain?” Maka Mereka semua, kawan-kawanku itu, akan segera membombardir pertanyaanmu itu dengan dengan tangkas.

Pertama; “waltakumminkum ummatuyyad’u…” Dan hendaklah ada diantara kamu sebagian ummat, yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari yang munkar. Ada sebagian, dengan tegas dikatakan hendaklah ada sebagian. Artinya kita harus dengan sadar menjadi masuk dalam yang sebagian itu, untuk agar bisa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (20)

Fastabiqul Khoirot(FK) adalah nama sebuah rumah kost, pondokan Mahasiswi selama masa studi. Letaknya tak jauh dari kampus, sekitar 300 meter dari kampus MIPA. Berjalan tak lebih 5 menit dari kampus MIPA ke arah Ungaran, kiri jalan, di situlah letak kost tersebut. Didepan kost, terdapat Plang berwarna biru berukuran cukup jelas bertuliskan FATABIQUL KHOIROT berwarna putih. Dulu, dulu sekali, ketika aku baru petama kali mengenal komunitas At-Taqwa, Fastabiq menjadi markas kedua setelah At-Taqwa. Sedang markas perjuangan yang ketiga adalah asrama HAMKA, yang terletak bersebelahan dengan FK. Mengenai Asrama HAMKA ini, akan aku ceritakan nanti di lain waktu. Sekarang, waktu ini, biarlah aku ceritakan dahulu mengenai Fastabiq. Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (19)

Kembali diam. Mungkin pikirannya kalut. Nampaknya, beban yang ditanggungnya memang cukup berat baginya. Pandangan matanya mengikuti gerak lebah yang tadi menabrak kaca jendela. Binatang bersayap kecil itu mengeluarkan suara yang sedikit mengganggu, mendengung sedikit keras. suara tak-tok-tak-tok dari kaca yang ditabraknya, menambah bising suasana. Akupun akhirnya memilih menyelamatkan binatang malang tersebut. Jika dibiarkan, bisa saja hidupnya tuntas di jendela kaca. Kuambil sapu, kuselamatkan, terbang keluar. Bebas, mengudara, menemui sanak saudaranya di pohon angsana. Jauh di luar sana.

“Saya punya masalah Mas,” berlanjut lagi pembicaraan, setelah kukembali duduk di dekatnya.

“Setiap orang juga punya masalah Mas, jangan khawatir.”

“Tapi masalah saya ini sungguh berat saya rasakan Mas.” Membenahi posisi duduk, mengeluarkan sebungkus rokok. “Rokok Mas?” Baca lebih lanjut

Bapak Tua di At-Taqwa (18)

Hanya diam. Tak menjawab rentetan pertanyaan yang kulontarkan. Maka kubiarkan sementara btamuku itu duduk terdiam di sebelahku. Tatapan matanya sedikit kosong, wajahnya diselimuti kabut kegundahan. Keningku sedikit mengernyit, mencoba mengingat wajah yang kini berada di sebelahku. Sepertinya pernah kukenal wajah ini, namun memoriku gagal mengingatnya kembali. Tapi jelas, dia mahasiswa. Dan model mahasiswa yang semacam ini, tidak sekali dua aku jumpai. Mahasiswa bermental tempe, si anak emak yang jiwanya kerdil. Lihat. Wajahnya seakan tak berwajah. Sedikit tertimpa masalah, stress berlarut-larut.

Duduk dengan menyandarkan punggungnya di tembok, dia melipat kedua kakinya dan menempelkannya di dada. Sebentar kemudian diluruskan kaki itu, diselnjorkan dengan lemas, agak rileks sekarang. Kepalanya dijatuhkan di dinding, matanya menatap tembok yang terbentang di depan. Melihat jam dinding yang sengaja dipasang pada posisi berhadapan dengan mimbar, tepat di atas pintu masuk. sengaja dipasang di sana agar khotib tidak berlamalama membacakan khotbah. Baca lebih lanjut